MARI KITA SUKSESKAN PEMILIHAN PRESIDEN 2014

.

Senin, 30 Desember 2013

Perayaan Natal Ditengah Lingkungan Muslim Madura


Pamekasan | Jatimnet - Perayaan hari Natal tahun 2013 bagi umat Kristiani, yang berlangsung ditengah-tengah kentalnya tradisi Islam di Pulau Madura tetap berlangsung dengan khidmat dan tanpa gangguan dari pihak manapun.
Jikapun tanpa dikawal oleh pihak kepolisian, perayaan Natal tersebut rasanya tidak akan terganggu, sebab warga Muslim Madura merupakan penganut Islam yang taat, dan mempelajari Islam secara kaffah (menyeluruh), sehingga mengganggu peribadatan ummat non Muslim, bukan salah satu ajarannya.
Stigma keras dan bringas yang disandangkan kepada orang Madura, bukanlah pada wilayah perbedaan agama, atau perbedaan cara berfikir, tetapi lebih pada harga diri dan penistaan agama, jika itu yang terjadi, maka akan berbeda jalan ceritanya.
Sejak masuknya agama Kristen di Pulau Madura pada pertengahan abad ke-19, dimana saat itu ada seorang penduduk pulau Jawa keturunan Madura yang bernama Tosari yang telah menjadi orang Kristen pada tahun 1843, dan diteruskan oleh misionaris asal Belanda yang ikut menyebarkan ajaran Kristen, dan hingga kini umat kristiani hidup rukun dan berdampingan dengan umat Muslim di wilayah itu.
Ada beberapa hal yang menjadi catatan. Pertama, Masyarakat Madura yang mayoritas Muslim, sangatlah toleran terhadap perbedaan keyakinan, kedua, masyarakat Madura tidak suka mencampuri urusan keyakinan beragama orang lain, dan yang ketiga, enggan mengganggu dan menjelek-jelakkan agama orang lain.
Dari catatan itu tentu ada pengecualiannya, selama orang Madura tidak direndahkan dan harga dirinya tidak di injak injak, apalagi keyakinan agamanya dinistakan maka ceritanya akan berbeda.
Sebab jika itu terjadi maka alur ceritanya akan berbeda. Jika orang Betawi punya istilah “Ente jual, ane beli”, maka di Madura ada kata yang berbeda “lebih baik putih tulang dari pada putih mata”.(does)