Kerapan Kerapan Sapi Akan digelar di Pamekasan
Pamekasan | Jatimnet - Seperti inilah gambaran kerapan sapi yang akan digelar di Kabupaten Pamekasan di lapangan stadion yang mengatasnamakan Piala Presiden 3 November 2013.
Pantat sapi yang luka-luka akibat dibacok rekeng oleh joki sapi karapan agar sapi bisa berlari kencang tiba digaris finis. Tidak hanya dibacok dengan paku, sebelum dikerap, sapi-sapi ini matanya juga dioleskan balsam dengan tujuan agar sapi panas. Dibagian pantat sapi yang luka itu juga dipasang spiritus, ada juga yang memasang dengan air cuka, dan telinganya disetrum aki.
Atas dasar ini pula, para ulama yang tergabung dalam Majelis Ulama Indonesia (MUI) melarang praktik kerapan sapi dengan pola kekerasan.
Para ulama ini meminta agar praktik kerapan sapi dikembalikan pada budaya aslinya, yakni hanya dengan menggunakan “pak-kopak” bukan dengan cara disiksa seperti yang akan digelar di Pamekasan 3 November 2013. Kalau kerapan sapi yang asli itu dulu menggunakan ‘sagersa’ atau ‘pak-kopak’ bukan memakai paku dengan cara melukai seperti yang dipraktikkan sekarang ini,” kata Budayawan Madura D Zawawi Imron dalam sebuah kesempatan dialog budaya di Pamekasan belum lama ini.
Pamekasan sendiri, akan menjadi tuan rumah dalam pelaksanaan kerapan sapi dengan cara-cara kekerasan itu, meski Kabupaten ini telah mengumumkan sebagai kabupaten yang menerapkan syariat Islam melalui program Gerakan Pembangunan Masyarakat Islami (Gerbang Salam).
Saya tidak tahu mengapa Pamekasan yang katanya Gerbang Salam ini, justru menjadi tuan rumah praktik karapan sapi dengan kekerasan,” kata aktivis mahasiswa Islam Pamekasan, Arifin.
MUI sendiri mengeluarkan fatwa haram pada kerapan sapi itu pada praktik kekerasannya, apalagi dengan membacokkan paku-paku kecil yang disebut “rekeng” pada pantat sapi, bukan pada kerapan sapi sebagai hazanah budaya masyarakat Madura, “kata Arifin (does)
