Kerapan Sapi Rekeng Piala Presiden Tahun 2013 Kurang Meriah
Pamekasan | Jatimnet - Penyelenggaraan kerapan sapi dengan menggunakan cara kekerasan “rekeng” se- Madura (Gubeng), yang memperebutkan piala Presiden tahun 2013 di Stadion R.Soenarto Pamekasan, tidak semeriah penyelenggaraan pada tahun-tahun sebelumnya.
Salah satu panitia pelaksana acara tersebut H.Haryanto Waluyo dan Juga Anggota Dewan dari Partai PPP mengatakan, penyelenggaraan Gubeng tersebut persiapannya sangatlah minim tidak ada persiapan sebelumnya.
Selain itu, sekarang diwaktu yang bersamaan di Bangkala juga digelar kerapan pakkopak,” katanya kepada wartawan saat ditemui di Stadion R.Soenarto. senin 03/11 pagi.
Ia juga mengatakan, penyelenggaraan Gubeng pada tahun-tahun sebelumnya dipersiapkan dengan sangat matang dan minimal satu bulan sebelumnya sudah siap.
Kalau tahun ini persiaapn hanya satu minggu Karena kontrofirsi dualisame ada yang setuju ada yang tidak diaadakn kerapan sapi Rekeng jadi persiapn yang matang hanya empat hari, untuk persiapan kerapan sapi, setidak-tidaknya satu bulan sebelumnya, tetapi kenyataannya untuk pelaksanaan piala presiden yang sekarang cuma empat hari,” katanya.
Terkait penyelenggaraan kerapan sapi yang digelar secara bersamaan di Kabupaten Bangkalan dan adanya dua versi penyelenggaraan piala Presiden, ia berharap agar pemerintah segera menyelesaikan dualisme tersebut. Penyelenggraan kerapan sapi di Pamekasan ini (Rekeng) itu masuk pakem lama, sedangkan yang pakkopak itu masuk pakem baru,” tegasnya.
Ia bahkan menegaskan, seharusnya kekerasan yang dilakukan kepada sapi pacu itu tidak dipersoalkan dalam konteks budaya, sebab di daerah lain, masih banyak kekerasan kepada hewan yang lebih kejam dari pola rekeng terhadap sapi dalam kebudayaan kerapan di Madura itu.
Banyak yang lebi parah dari Madura, contohnya di Garut, disana itu mengadu domba hingga tanduknya lepas, di Minangkabau ada tradisi adu kerbau sampai perutnya keluar, di Bali adu ayam sampai mati, tetapi tidak ada yang mempersoalkan, kenapa hanya kebudayaan Madura ini yang dipersoalkan,” tegasnya anggota Dewan dari Partai PPP.
Politisi Partai Persatuan Pembangunan (PPP) itu bertekad untuk mensukseskan Gubeng tersebut demi menjaga dan melestarikan keberlangsungan kebudayaan Madura yang sudah berlangsung sejak jaman kerajaan itu.
Jumlah peserta yang ikut dalam kompetisi tersebut sebanyak 24 pasang sapi pacu dari berbagai wilayah di empat Kabupaten Se-Madura, masing-masing kabupaten sebanayak 6 pasang, peserta tersebut merupakan hasil seleksi, “tegasnya (does)
