Tolak Dugem Party With Gelar Demo Di Kantor Dewan
Pamekasan | Jatimnet - Aksi penolakan pesta dugem bertajuk party night with DJ Jimmy di Stadion R. Soenarto Hadiwidjojo, tidak hanya dari kalangan mahasiswa dan masyarakat umum. Melainkan juga dari kalangan siswa. Mereka rela meninggalkan ruang kelasnya untuk melakukan demonstrasi ke kantor DPRD Pamekasan. Apa penyebabnya?
Maraknya penolakan atas rencana pesta dugem di Pamekasan, juga dilakukan siswa-siswa SMP dan SMA sederajat. Hal itu terlihat kemarin (8/11) setelah puluhan siswa di Pamekasan, menggelar demonstrasi ke kantor DPRD Pamekasan. sekitar pukul 09.00.
Aksi yang dilakukan sekitar 50 siswa dan beberapa guru. serta pemuda itu, meminta agar pesta dugem sejati bakal digelar sabtu malam nanti di gagalkan.
Itu karena diyakini akan merusak moral anak dan pemuda Pamekasan kedepan. ”Lihat anak-anak generasi penerus di Pamekasan ini.
Besok dia akan disuguhkan pesta dugem yang tak baik adalah pesta setan Lalu mau dididik apa adik- adik kita yang masih sekolah ini. Apakah akan dijadikan tukang dugem besok setelah remaja,” teriak Zainal Abidin, salah satu guru di Pamekasan
Sengaja mengajak beberapa muridnya untuk demo menolak pesta dugem, sebagai wujud keprihatinannya terhadap keadaan di Pamekasan yang dirasa sudah umum meninggalkan nilai-nilai ke-Islamannya.
Kami sebagai guru selalu melakukan penanaman moral dan akhlak sejak dini kepada siswa. Tapi dengan diselenggaranya pesta dugem ini, apakah tidak akan merusak moral anak didik. Percuma guru mendidik murid-muridnya di sekolah setiap hari. tapi di lapangan disuguhkan kegiatan yang aneh-aneh,” teriak Zainal.
Diungkapkan pula jika Pemkab Pamekasan tidak konsisten dalam menjalankan pemerintahan. Sebab menurutnya, Pamekasan dengan degan (Berdian Pengembangan Masyarakat islam Gerbang salam ternyata yang dilakukan pemkab dengan memberi izin pergelaran pesta dugem, sangat bertolak belakang dengan Gerbang Salam selama ini.
Salah satu siswa, Roni, mengalun paham terhadap apa yang dilakukannya saat demo. Dirinya mengaku rela meninggalkan ruang kelas, demi masa depan Gerbang Salam, dan masa depan dirinya sebagai generasi penerus. Katanya akan ada pesta dugem secara terbuka, itu melanggar syariat.” kata siswa kelasi/I itu kepada Jatimnet.
Menurut korlap aksi, Wahyu Mulyati dirinya mengajak teman-temannya dan siswa demo ke DPRD untuk meminta pertanggung jawaban para wakil rakyat dalam fungsi pengawasannya kepada eksekutif. “Mana nyalimu hai para anggota DPRD, terutama kamu semua yang dari partai islam. Kok bisa pesta dugem ini mendapat izin dari eksekutif (Pemkab Pamekasan, Red) papar wahyu.
Aksi damai yang dilakukan di luar pagar utara kantor DPRD, tepatnya di sisi selatan Jalan Kabupaten, akhirnya ditemui Wakil Ketua DPRD Suli Fans. dan Wakil Kema Komisi A Heidir Rahman.
Dalam tanggapannya baik Suli maupun Heidir, menyatakan jika dirinya baru tahu hari itu, saat ada demo, jika akan digelar pesta dugem di Pamekasan “Selama ini tidak ada koordinasi antara pemkab dengan kami (komisi A, Red). Tapi setelah saya krosoek bawaan, pergelaran itu sah,” kata Heidir. Hal senada juga diutarakan Suli.
Menurutnya, ke depan komisi A dimandatkan untuk memanggil pihak terkait dari eksekutif guna pertautan ada di komisi A. Biar komisi A yang bertindak jika adik-adik semua menginginkan pesta dugem itu ditiadakan. Karena bertentangan dengan Gerbang Salam, kami pun sepakat dengan adik-adik.” pukas Suli.
Mendengar penjelasan ini. para pedemo merasa puas. Akhirnya mereka bubar dengan tertib. Para siswa kembali ke sekolahnya untuk melanjutkan proses belajarnya. (does)
