Bangkalan Ngerap Tanpa Kekerasan
Bangkalan | Jatimnet - Meski bukan kabupaten yang menerapkan syariat Islam sebagaimana Pamekasan yang terkenal sebagai kota Gerbang Salam, pemkab Bangkalan, dengan tegas menolak karapan sapi dengan kekerasan dan menggelar karapan sapi tanpa penyiksaan dengan istilah pakkopak.
Kabupaten Bangkalan sendiri bukanlah kabupaten yang mendeklarasikan diri sebagai kabupaten yang menerapkan syariat Islam sebagaimana kabupaten Pamekasan melalui program gerakan pembangunan masyarakat Islami (Gerbang Salam).
Kami menolak karapan sapi dengan cara kekerasan itu, karena disamping memang tidak Islami, juga cara-cara kekerasan seperti itu, menyimpang dari pakem asli karapan sapi di Madura,” kata Wakil Bupati Bangkalan Mondir A Rofii.
Karapan sapi tanpa kekerasan yang digelar pemkab Bangkalan itu di lapangan RP Moh Noer Bangkalan. Pada ajang karapan sapi itu, sebanyak 30 pasangan sapi karapan bersaing menjadi yang tercepat, memperebutkan sejumlah hadiah yang disediakan pemkab Bangkalan.
Dalam karapan sapi yang digelar pemkab Bangkalan ini, para pemilik sapi tidak diperbolehkan membacok pantat sapi dengan paku, atau yang disebut rekeng oleh para pengerap serta, juga tidak diperbolehkan mengoleskan balsan pada mata sapi, dan mengoleskan cabai pada dubur sapi, seperti yang biasa dipraktikkan oleh para pemilik sapi karapan di Kabupaten Gerbang Salam di Pamekasan.
Di Pamekasan meski kabupaten ini telah menyatakan sebagai kabupatan yang menerapkan syariat Islam melalui program Gerbang Salam, akan tetapi pemkab setempat tidak bersedia menggelar karapan sapi tanpa kekerasan, Pemkab sendiri bahkan terkesan lemah dan lepas tangan, serta suaranya juga sumbang.
Pemimpin lembaga penting di Pamekasan baik eksekutif, maupun legislatif, terkesan takut mengambil keputusan atau kebijakan tegas menolak karapan sapi dengan kekerasan, sehingga tidak bersedia menggelar karapan sapi tanpa kekerasan sebagaimana pemkab Bangkalan yang tidak menerapkan syariat Islam, dengan tegas menolak Kerapan sapi dengan kekerasan (does)
