MARI KITA SUKSESKAN PEMILIHAN PRESIDEN 2014

.

Kamis, 03 Oktober 2013

Pengrajin Batik Perang Inovasi


Pamekasan | Jatimnet - Ditengah naiknya harga bahan-bahan untuk produksi batik, yang saat ini sudah mencapai 50 persen, membuat pengrajin batik di Kabupaten Pamekasan, harus berinovasi agar tetap bertahan.
Salah satu pengarajin batik asal Desa Larangan Bedung Kacamatan Palengaan Kabupaten Pamekasan Safari (45) mengatakan, saat ini harga bahan baku batik sudah mengalami kenaikan hingga mencapai 50 persen.
Dijelaskan, harga kain yang awalnya Rp.18 ribu per meter, saat ini mengalami kenaikan hingga mencapai Rp. 22 ribu. Kenaikan itu sudah terjadi secara bertahap, sejak bulan Juli tahun 2012 lalu mas, dan harag Rp.22 ribu itu sudah sejak awal 2013 lalu,” kata Safari
Masih Safari, selain harga kain naik, juga bahan lainnya ikut naik, bahkan harga malam, kenaikannya hingga mencapai Rp.13 juta per kwintal. Kalau dulu perkwintalnya masih Rp.6 jutaan mas, sekarang sudah sekitar Rp.13 juta,” keluhnya.
Tetapi dalam kondisi itu, ia tetap tidak menaikkan harga batik tulis hasil produksinya, sebab pelanggannya tetap menginginkan harga untuk tidak dinaikkan. Pelanggan kan tidak mau tahu mas, mereka tetap menginginkan harga yang seperti biasnya,” ulasnya.
Sehingga agar produksi batiknya tidak merugi dan tetap bertahan ditengah ketatnya persaingan pengrajin batik di wilayah itu, ia terus berinovasi untuk menarik pembeli. Kita buat motif yang baru mas, jadi dari motif yang baru itu kita bisa menjulanya lebih mahal, sehingga kita tidak mengalami kerugian yang besar,” jelasnya.
Saat ini pengusaha batik tulis ini tengah menyiapkan motif baru, yaitu motif kelinci dengan harga Rp.250 ribu, serta motif Daun sirih yang dihargai Rp. 350 ribu per lembarnya. Kalau yang sudah ada di pasaran itu, seperti Biur,sekar jagat, abstrak, harganya sekitar Rp.125-150 ribu per lembar, tetapi untuk motif baru kan harganya bisa lebih tinggi,” ulasnya.(Does)