Masyarakat Cinta Keadilan Bukan Penindasan
Pamekasan | Jatimnet - Tingginya animo masyarakat terhadap pelayananan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD)dr. H Slamet Martodirjo Kabupaten Pamekasan yang dirasa berpihak kepada pasien dan menjadi lebih baik.
Ternyata berbanding terbalik (kontradiksi) dengan realita yang ada ,haln tersebut bisa kita rasakan selama ini dimana telah terjadi fenomina yang tidak menyenangkan dan terasa tidak pantas hal tersebut terjadi dalam sebuah Rumah sakit Umum daerah (RSUD) yang notabene sebagai rumah sakit Kabupaten dan Rumah Sakit Rujukan Di Madura, dengan korban Rakyat /masyarakat Pamekasan itu sendiri.
Peraturan atau kebijakan yang telah dikeluarkan oleh pihak Management RSUD Pamekasan, dimana pengunjung dan penunggu pasien yang tidak boleh melebihi 1 (satu) orang merupakan peraturan atau kebijakan yang sangat bertolak belakang dengan kultur masyarakat Pamekasan khususnya masyarakat Madura pada umumnya dan bertolak belakang dengan prinsip Gerbang Salam yang selama ini dijunjung tinggi dan dihormati oleh para Stack Holders Pemerintah Kabupaten Pamekasan.
Eksen negatifnya beberapa hari yang lalu telah terjadi meninggalnya pasien RSUD dr. H Slamet Martodirjo dengan dilarangnya orang tua maupun saudara dari pasien tersebut untuk berada disamping pasien tersebut untuk bisa menyaksikan bahkan mendo’akan pasien bersangkutan mendekakati ajal (sakaratul maut).
Hal tersebut merupakan perturan atau kebijakan yang tidak manusiawi, memangkas prinsip Persaudaraan dan silaturrahmi dalam hal menjenguk orang sakit sungguh demikian hal tersebut sangatlah bertentangan dengan Prinsip social kemanusiaan dan prinsip ajaran Agama.
Dalam hal tersebut mengatasnamakan Aliansi Masyarakat Pamekasan Perduli Sehat (AMPAS) melakukan Demo jum’at 18/10 didepan RSUD dr H Slamet Martodirjo dalam demo tersebut pihak keamanan dari ke Polisian tidak tampak dilokasi tersebut,yang mengakibatkan kemacetan yang panjang disepanjang jalan pamekasan sampang kemana pihak Kepolisian kok demo dibiarkan menganggu penguna jalan.
Menurut Korlap Aksi Zainal waktu wawancarai oleh wartawan jatimnet mengatakan bahwa Peratuaran tersebut merupakan bagian prinsip pelayanan yang optimal.
“Kami anggap itu semua hanyalah Alibi dan praktek yang tidak berpihakkepada pasien pada khusunya dan rakyat pada umumnya”Ujar Zaenal.
“Belum lagi kurangnya fasilitas yang ada, seperti npenyediaan air bersih para keluarga Pasien dan pengunjung, ruang tunggu keluarga pasien yang tidak ada, kamar pasien yang terasa pengap dan panas (tidak layak bagi orang sakit)” Sambungnya.
“Sedangkan birokrasi administrasi yang ruwet untuk pasien Jamkesmas/jamkesda, semua adalah bukti bahwa RSUD dr. H Slamet Martodirjo masih belum memberikan kepercayaan (Trust) kesemua lapisan masyarakat Pamekasan pada khusunya Madura umumnya “ ujar Zaenal dengan lantang sekali.
“Kami atas nama Ampas menuntut Direktur RSUD beserta manajemen harus bertanggung jawab kepada keluarga pasien yang meninggal beberapa hari yang lalu, menghapus peraturan atau kebijakan tidak pro pasien, optimalisasi yang professional dan tidak kapitalis, penuhi fasilitas yang sampai saat ini tidak ada,jangan diskriminasikan pasien Jamkesmas dan Jamkesda mereka juga manusia” teriakan Zaenal dengan lantang (Does)
